HOME
| HOME |
Persepuluhan
Bank Account
BCA Juanda, Bogor'095 3030 001'
a/n GSSJA BPD JABAR
Sekretariat:
Jl. Suryakencana No. 93 Bogor - Indonesia
Telp. (0251) 9149911
Fax. (0251) 8324773
Email: gssja_bpd_jabar@yahoo.co.id
Jam Kerja:
Selasa - Jumat
Pukul 09.00 - 16.00 WIB
| Written by T. Rosy Kaijzel Lasso |
| Tuesday, 08 November 2011 10:43 |
|
TIDAK MEMILIKI MENTALITAS “MENJADI KORBAN”
Kita perlu merenungkan sisi lain dari pengorbanan yang sering kali terabaikan, namun dampaknya sangat mempengaruhi nilai “pengorbanan” itu sendiri, yaitu mentalitas “menjadi korban”. Kita dituntut untuk memiliki hati yang rela berkorban, namun pengorbanan itu sering kali memiliki dampak balik yang berbahaya bagi orang yang berkorban itu. Kalimat gampangnya yang sering kita dengar adalah, “enak di loe… nggak enak di gue…”. Jangan-jangan pengorbanan kita malah ditolak Allah, karena sikap kita yang salah saat berkorban. Yesus adalah teladan teragung dari Seorang yang rela berkorban, intisari tindakanNya adalah kasih, sehingga tidak ada reaksi kemarahan, dendam, luka atau kepahitan dalam proses salib yang sangat berat. Dia mengorbankan diriNya, hakNya dan seluruh hidupNya, meskipun Dia dirajam oleh rasa sakit, namun Dia benar-benar merdeka, meskipun dihancurkan oleh luka-luka, namun Dia benar-benar merdeka, dan sekalipun menghadapi kematianNya sendiri…Dia benar-benar merdeka. Yesus, seorang yang berkorban namun tidak memiliki mentalitas “menjadi korban”.
Kita akan merenung 2 ciri mentalitas “menjadi korban” adalah : 1. Merasa tertindas Istri merasa diperlakukan seperti pembantu, suami merasa tidak dihargai, anak-anak merasa diabaikan, orang tua merasa dilupakan dan seterusnya dan sebagainya. Sangat mudah kita melihat fenomena ini dalam masyarakat kita. Merasa tertindas menyebabkan istri-istri tak lagi menghormati ketundukan sebagai ruang bagi Roh Kudus untuk membentuk dan menyempurnakan roh yang lemah lembut dan tentram yang sangat dihargai Allah dalam pribadi seorang wanitanya Allah (1 Petrus 3:4) Merasa tertindas menyebabkan suami-suami kehilangan anugrah kebaikan Allah dari pertolongan Tuhan lewat Sang penolong yang sepadan ( Kejadian 2:18) Merasa tertindas menyebabkan anak-anak tidak mengembangkan ketaatan kepada orang tua sehingga tidak menerima kebahagiaan dan berkat panjang umur ( Efesus 6:3) Merasa tertindas menyebabkan orang tua tidak dapat menerima kuasa menjadi wakil Allah untuk mempersiapkan generasi ilahi berikutnya (Yesaya 63:23, Amsal 20:7) Jangan tukar anugerah Allah hanya gara-gara “merasa”… Di taman Eden, Allah menciptakan begitu banyak pohon yang dapat dinikmati oleh Adam dan Hawa dan hanya “satu” pohon yang dilarang Allah untuk di makan. Seluruh taman itu di keliling oleh pohon-pohon berkat Allah, namun iblis sangat pandai membaliknya sehingga pohon (pengetahuan baik dan yang jahat) yang hanya satu diantara seribu itu nampaknya ”lebih” besar nilainya dan “lebih” indah dibandingkan seluruh pohon yang lainnya, itulah yang menyebabkan manusia jatuh. Hati-hati dengan pemutarbalikkan yang dikerjakan oleh siasat si jahat sehingga kita tidak bisa melihat semua anugerah disekeliling hidup dan keluarga kita hanya gara-gara “perasaan”. Andalkan imanmu dan jangan perasaan. Ketika kita harus berkorban, lakukan dengan iman dan jangan merasa tertindas.
2. Mengharapkan imbalan Sejak kecil kita dilatih untuk bersikap dengan baik saat seseorang melakukan sesuatu atau memberikan sesuatu dengan mengucapkan “terimakasih tante…, terimakasih opa…, terimakasih…” mengucapkan terimakasih dan mengingat kebaikan orang lain itu sikap yang baik, namun “mengharapkan” terimakasih atau imbalan orang lain atas apa yang telah kita lakukan bukanlah sikap yang dewasa dari anak-anak Kerajaan Allah. Sering kita mendengar kalimat curahan hati, “Nggak tahu terimakasih, siapa dulu yang tolong dia” “kalau bukan karena saya, dia nggak akan seperti sekarang…” “saya sih nggak mengharapkan apa-apa, cuman bilang kek…terima kasih…” Sebuah nasehat Roh Kudus lewat hidup Yusuf saat Allah sedang mempersiapkannya untuk menjadi pemimpin besar. Yusuf mendapat kesempatan untuk menterjemahkan mimpi 2 pegawai raja yaitu juru roti dan juru minum yang terpenjara bersama dengan dia. Juru minum akan diangkat kembali menjadi juru minum raja dan dengan santun Yusuf berkata,”…ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terimakasihmu kepadaku…”(Kejadian 40:14). Tidak ada yang salah dalam pernyataan Yusuf… namun Allah menganggap itu sebuah alasan yang sangat kuat untuk menahan Yusuf lebih lama di penjara dalam proses kerendahan hati. Allah lah yang harus memperoleh semua ucapan syukur, Dialah yang bekerja dibalik semua, di dalam semua, memakai semua untuk tujuan kebaikan anak-anakNya dan kemuliaan namanya (Roma 8:28). Dua hal milik Allah yang tidak boleh kita ambil, yaitu kemuliaanNya (Yesaya 42:8, 48:11) dan pembalasanNya (Ulangan 32:35, Roma 12:19). Hak Allah memperoleh ucapan trimakasih. Jangan pernah menuntut orang lain berterimakasih untuk apa yang telah kita lakukan, apalagi mengharapkan balasannya. Lakukanlah kebaikan karena memang untuk itulah kita dipanggil dan berkorbanlah tanpa mengharapkan imbalan, maka itu akan memerdekakan kita.
Akar dari semua berasal dari HATI, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” Amsal 4:23. Pengorbanan harus keluar dari pintu yang benar yaitu HATI.
1. Jagalah hatimu Bukan…jagalah pelayananmu, jagalah pekerjaanmu, jagalah keluargamu, jagalah asetmu, jagalah wibawamu, jagalah statusmu…tapi jagalah hatimu. Sering kali kita mempertahankan hal-hal yang tidak penting dan mengabaikan yang terpenting. Hati kita sudah diprogram oleh Allah, hanya mampu memiliki satu tuan (Matius 6:24)…dan tidak akan bisa mendua karena tidak akan pernah tenang (Yakobus 1:8), hati tidak pernah sanggup mendua. Dan saat kita memilih satu untuk menjadi yang prioritas, maka yang lainnya akan segera tersingkir. Manusia adalah makhluk yang paling sulit intim dengan manusia yang lainnya, semua ini karena gambaran diri yang telah dirusak oleh iblis maka, bahkan dengan dirinya sendiri manusia sulit untuk intim. Namun, jika kita menempatkan Tuhan Yesus sebagai yang bertahta dalam hati kita…secara otomatis semua orang akan masuk pas dalam posisinya di hidup kita. Kita bisa mengasihi istri, menghormati suami, mentaatai orang tua, menghargai rekan kerja, dll. Kita bisa memiliki keintiman dengan Allah, dengan diri sendiri dan dengan pasangan, keluarga dan orang lain. Hati yg terjaga karena komitmen kita dan pertolongan Roh Kudus akan mampu berbagi…bahkan berkorban.
2. Dari situlah terpancar kehidupan. Jika hati kita bersih, jika hati kita mulia, dan kasih Kristus menjadi motivasi dari semua perbuatan kita, maka sorot mata kita menghidupkan semangat orang lain, perkataan kita menghidupkan, pelayanan kita hidup, kasih dalam keluarga kita hidup, kehadiran kita memberi pengaruh yang menghidupkan. Kehidupan itu datang dari dalam kita sendiri yaitu HATI. Berkorbanlah, tanpa mentalitas “menjadi korban”, karena Kristus telah menggantikan posisi kita, menjadi korban bagi kita, kini kita menikmati kemerdekaan di dalam DIA dan berkorbanlah dengan hati yang terjaga oleh kasih sehingga pengorbanan kita akan memberi dampak yang “menghidupkan”.
Renungan pribadi tentang Pengorbanan, Oleh: T. Rosy Kaijzel Lasso |




