gototopgototop
company logo

HOME

HOME

Pengurus

Bank Account

BCA Juanda, Bogor
'095 3030 001'
a/n GSSJA BPD JABAR

Sekretariat:

Jl. Suryakencana No. 93 Bogor - Indonesia

Telp. (0251) 9149911

Fax. (0251) 8324773

Email: gssja_bpd_jabar@yahoo.co.id

Jam Kerja:

Selasa - Jumat
Pukul 09.00 - 16.00 WIB

7 LANGKAH MENTRANSFORMASI GEREJA MELALUI KKA

 

LANGKAH PERTAMA

MENGERTI TUJUAN ALLAH YANG MULA-MULA (SEBENARNYA)

Oleh: Pdt. Jenus Junimen (Departemen Pemuridan)

 

Pertanyaan yang perlu untuk kita pikirkan bersama, “Untuk apakah gereja ada? Apakah gereja yang kita kembangkan sudah berada dalam tujuan Allah yang sebenarnya?” Kedua pertanyaan ini akan membawa kita untuk lebih memahami akan tujuan Allah dalam mengembangkan gereja kita dengan lebih baik lagi.

Langkah-langkah yang harus kita perhatikan untuk mencapai hal ini adalah:

1. Kita harus temukan kembali tujuan Allah yang mula-mula untuk SETIAP orang percaya (1 Petrus 1:1-2:12)

Kita sebagai hamba-hamba Tuhan bertanggung jawab untuk membawa setiap orang percaya mengerti akan tujuan Allah dalam hidupnya. Dengan demikian, jemaat yang kita layani akan lebih bertumbuh dan dewasa di dalam Tuhan. Dengan mengetahui destiny (tujuan akhir) setiap orang percaya maka mereka akan sadar akan posisi mereka sebagai Imamat yang Rajani dan Bangsa yang Kudus sehingga dalam proses pertumbuhan rohani mereka, setiap hari mereka akan diubah menjadi seperti Kristus! (Keluaran 19:5-6).


2. Apakah yang akan terjadi ketika orang percaya hidup sesuai dengan tujuan mula-mula mereka?

Ada 2 hal penting yang akan terjadi yaitu:

a) Mereka menggenapi perintah yang utama dan terutama, yaitu mengasihi Allah dan mengasihi sesama mereka (Matius 22:37-40).

b) Mereka menggenapi Amanat Agung yaitu menjadi murid (Matius 28:18-20).

Hasilnya: Jemaat kita akan memuliakan Tuhan dengan cara memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Tuhan (1 Petrus 2:9). Dengan demikian, hasil dari yang kita lakukan akan mempercepat proses pertumbuhan gereja kita.


3. Celah antara Teologi dan Pengalaman Kita

Teologi yang baik adalah teologi yang diterapkan. Seringkali ada jurang pemisah antara teologi yang dipelajari dengan pengalaman keseharian kita dalam melayani. Teologi sebenarnya melengkapi dan memandu agar pengalaman kita tidak menyimpang dari jalan yang benar. Teologi juga penting adanya. Tetapi pengalaman dibalik mempelajari teologi pun sangat besar manfaatnya. Kita tidak hanya mengetahui tentang Tuhan (knowing God) tetapi kita juga harus mengalami Tuhan (experiencing God). Keseimbangan dari keduanya membawa kita semakin mengerti kehendak Tuhan.

Selain itu juga kita harus memikirkan akan relevansi gereja terhadap lingkungan kita. Apakah keberadaan gereja kita menjadi jawaban atas kebutuhan lingkungan kita. Apakah kita sudah selaras dengan apa dibutuhkan oleh lingkungan di sekitar kita? Bukankah gereja yang berhasil adalah gereja yang menjawab kebutuhan dari masyarakat sekitarnya? Dengan demikian, kita benar-benar menjadi garam dan terang di lingkungan kita. Tanpa disadari, mereka telah melihat Yesus Kristus dalam gereja kita.


4. Gereja Abad Pertama: Gereja yang Menghidupi Tujuannya

Gereja bukan hanya sekadar mengetahui tujuannya tetapi yang lebih utama adalah gereja harus menghidupi tujuan itu sendiri. Perhatikan apa yang terjadi dari kehidupan gereja mula-mula dalam Kisah Para Rasul:

a) Setiap orang mengabdi kepada Allah dan memberikan diri dan harta mereka (Kis 2:42-47). Gereja yang demikian adalah gereja yang bertumbuh karena mereka benar-benar mempraktekkan kasih Tuhan. Gereja dirancang bukan untuk menjalankan program, tetapi untuk menjalankan kasih yang adalah tujuan Allah atas dunia ini.

b) Jemaat Tuhan menginjil lalu gereja banyak didirikan (Kis 11:19-26). Dengan jemaat yang dipenuhi dengan kasih Tuhan maka mereka akan bersaksi kepada setiap orang. Efeknya adalah banyak orang tertarik dengan Injil yang mereka beritakan karena memang mereka melihat gaya hidup kasih yang ditunjukkan.

Namun sayang, gaya hidup yang demikian tidak bertahan lama. Seiring dengan perjalanan waktu, gereja yang dibangun oleh para Rasul memasuki masa kegelapan. Terang gereja menjadi redup dan kurang bersinar terang lagi.


5. Perjalanan Menuju Masa Kegelapan

Mari kita melihat urutan waktu dari keadaan gereja yang menuju masa kegelapan:

Tahun 313 M Kaisar Konstantin membuat Kekristenan menjadi agama resmi.

Tahun 323 M Gedung-gedung gereja dibangun lalu mulai membangun eksklusivisme mereka.

Inilah yang membawa gereja terus merosot dalam hubungan mereka dengan lingkungan mereka. Mereka menjadi eksklusif dan kurang peduli untuk memberitakan Injil. Selain itu, “orang-orang kudus” diganti menjadi “gedung yang kudus”. Terjadi peralihan dari manusia yang dikuduskan Tuhan kepada gedung/benda yang kudus. Esensi dari fokus gereja telah berubah.

Tahun 400 M Kaisar Theodosius mewajibkan setiap orang menjadi Kristen dengan tujuan agar tetap memegang kewarganegaraan Romawi. Inilah yang memicu Kekristenan yang legalistik, atau Kristen KTP (Kristen Tanpa Pertobatan). Banyak orang menjadi Kristen sekadar tradisi, tanpa memiliki pengalaman Kelahiran Baru dalam hidup mereka.

Dalam gereja, esensi penyembahan telah menjadi dingin dan kaku. Dari hal ini, terbukalah untuk penyembahan berhala masuk dalam gereja.

Selain itu, dari istilah “orang-orang suci” (Jamak) menjadi “orang suci” (Tunggal) yaitu Paus yang menjadi pemimpin tertinggi gereja. Gereja mulai merosot bukan hanya dalam ajaran (doktrin) tetapi juga moral, nilai, dan karakter.

Akibatnya dari hal-hal tersebut di atas, gereja menyimpang jauh dari tujuan Allah yang semula dan gereja tidak lagi menjadi garam yang mengasinkan dan terang yang menyinari kegelapan. Bagaimana mungkin dunia ini akan menjadi terang, bila terang Tuhan dalam gereja menjadi redup?

Berikut ini adalah perbandingan secara menyeluruh dari Gereja mula-mula dengan Gereja abad ke-4 dan seterusnya.


Gereja Abad 1

Gereja Abad 4, dst

Perjamuan Suci

Makan bersama-sama

Upacara/sakramen

Penyembahan

Ikut serta

Pengamatan saja

Kesaksian

Melalui hubungan

Keahlian menjual

Pelayanan

Pribadi

Hampir eksklusif social

Kepemimpinan

Hamba Tuhan sesuai dgn karunia

Orang-orang professional

Pertumbuhan

Multiplikasi (pelipatgandaan)

Pertambahan

Misi

Kehidupan

Mendukung misionaris

Pemuridan

Praktek di lapangan

Pelatihan dalam kelas

Persekutuan

Terlibat dalam komunitas

Dalam pertemuan2 besar

Kehidupan tubuh Kristus

Gaya hidup

Keanggotaan gereja

Karunia

Digunakan secara luas

Digunakan secara terbatas

Pemberian penguatan

Kuasa Allah

Kemampuan manusia

Bangunan Fisik

Fungsional

Tempat-tempat suci

Keanggotaan

Produsen

Konsumen

Pengembangan rohani anak

Tanggung jawab orang tua

Tanggung jawab gereja


(Sumber: Disadur dari William Beckham, “Reformasi Kedua”)

Kami berharap dengan mempelajari sejarah gereja ini, kita semakin sadar bahwa ternyata memang gereja sudah menyimpang jauh dari tujuan yang ditetapkan Allah semula dalam Alkitab. Mari kita bangun gereja di mana Tuhan telah tempatkan kita dengan konsep yang benar. Dengan KKA (Kelompok Keluarga Allah) maka dinamika gereja akan semakin hidup dan menggairahkan. Selain itu juga, KKA menjadi tempat untuk penginjilan yang efektif. Orang dunia mungkin anti dengan gedung gereja, tetapi orang dunia tidak anti dengan gaya hidup Kristus yang ditularkan melalui KKA. Dengan demikian, gereja kita menjadi dirasakan dan memiliki pengaruh yang kuat dan positif. Dengan penuh semangat dan antusias, mari kita bersatu hati bersama membangun KKA. We are on the right track! (Kita berada pada jalur yang benar!). Tuhan Yesus memberkati.

 


Powered by GSJAJabar!. Designed by: ThemZa themes ntc hosting Valid XHTML and CSS.