HOME
| HOME |
Persepuluhan
Bank Account
BCA Juanda, Bogor'095 3030 001'
a/n GSSJA BPD JABAR
Sekretariat:
Jl. Suryakencana No. 93 Bogor - Indonesia
Telp. (0251) 9149911
Fax. (0251) 8324773
Email: gssja_bpd_jabar@yahoo.co.id
Jam Kerja:
Selasa - Jumat
Pukul 09.00 - 16.00 WIB
| Written by Pdt. Hudus Pardede |
| Tuesday, 05 July 2011 14:51 |
|
7 LANGKAH MENTRANSFORMASI GEREJA ANDA
LANGKAH KEDUA MENGERTI PANGGILAN DAN SUSUNAN ALLAH BAGI GEREJA
Pergeseran dan Penyimpangan Gereja mula-mula benar-benar memahami dan menghayati tujuan Allah yang orisinil untuk setiap orang percaya. Sebagai orang-orang yang telah dipilih, mereka berfungsi sebagai imam bagi Tuhan, bagi sesama orang percaya dan bagi dunia. Untuk menjalankan fungsi itu mereka menduplikasi gaya hidup seperti Kristus dalam keseharian mereka, sehingga nilai-nilai Kerajaan Allah itu berdampak dalam kehidupan sehari-hari. Pelayanan gereja melalui umat Allah menjadi relevan, sebab orang-orang percaya menjadi pelaku amanat agung di dunia dan bidang dimana mereka hidup dan beraktifitas. Namun gereja kehilangan tujuan dan panggilan itu sejak kekristenan dijadikan agama resmi negara oleh Kaisar Konstantinus, sehingga terjadi kemerosotan dalam berbagai bidang di gereja, baik dalam hubungan internal di antara orang percaya maupun eksternal dengan orang-orang di luar gereja. Fokus kepada “gedung suci” dan “orang suci” mengaburkan panggilan Allah yang mula-mula bagi gereja-Nya. Karena itulah Gereja Tuhan harus dikembalikan pada panggilan semula, serta menata diri kembali pada struktur yang mendukung panggilan mula-mula tersebut. Panggilan Allah Pada hakekatnya, ada dua aspek panggilan yang Tuhan berikan bagi orang-orang percaya. Pertama, panggilan umum yang diberikan bagi setiap orang percaya (2 Korintus 5:18-20). Panggilan tersebut adalah pelayanan pendamaian (rekonsiliasi). Sesungguhnya satu-satunya esensi pelayanan kita adalah pelayanan pendamaian, yakni agar terjadi pendamaian kembali antara semua orang dengan Tuhan, dan itu akan berdampak pada pendamaian di antara sesama manusia. Apapun pelayanan yang kita kerjakan dalam gereja tidak boleh kehilangan esensi ini, baik pelayanan pengajaran firman, penggembalaan, doa, konseling, musik, usher maupun kegiatan di luar gedung gereja (penginjilan, aksi sosial maupun penjangkauan di market place). Segala sesuatu yang kita lakukan bagi Allah harus berupa kontribusi bagi pelayanan ini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Di samping panggilan umum bagi semua orang percaya, ada juga panggilan spesifik bagi orang-orang yang dipilih Tuhan bagi pelayanan-pelayanan lima jawatan (Ef. 4:11-12a). Tugas dan fungsi utama pelayanan-pelayanan lima jawatan ini bukanlah supaya ada orang-orang yang terlatih dan memiliki “spesialisasi” dalam melakukan tugas-tugas pelayanan. Sebaliknya, mereka dipanggil untuk memperlengkapi semua orang percaya bagi pekerjaan pelayanan. Jadi, ketika ada orang yang dipilih Tuhan untuk menjadi gembala, pengajar, nabi, rasul, atau penginjil, maka mereka –sebagai satu tim—haruslah berperan untuk melatih, memperlengkapi dan memuridkan orang-orang percaya agar dapat memenuhi tugas pelayanan pendamaian. Jadi, orang-orang yang mendapat panggilan khusus ini bukanlah orang-orang yang “digaji” oleh jemaat untuk melakukan tugas-tugas pelayanan, melainkan untuk melatih setiap orang percaya agar mampu melakukan tugas dimanapun Tuhan telah menempatkan mereka, baik di lingkungan tinggal, pergaulan, pekerjaan maupun gereja.
Memperlengkapi orang-orang kudus Dalam 2 Timotius 3:17 dan Efesus 4;12 Paulus menekankan tujuan Allah yakni agar setiap umat Allah diperlengkapi untuk semua pekerjaan ilahi. Dalam Bahasa Yunani, kata yang dipakai adalah “artios” (dari akar kata katartismos) yang dapat diartikan suatu usaha untuk membawa kesempurnaan (kedewasaan) dan kesehatan (keutuhan), mencocokkan atau mempersiapkan sepenuhnya. Jadi, tugas memperlengkapi di sini adalah membawa kepada keutuhan dan fungsinya, dan inilah hakekat dari memuridkan yang diamanatkan Kristus pada gereja-Nya (Mat. 28:18-20). Pemuridan itu menuntut perubahan (konversi) agar sesuai dengan maksud Allah yang semula. Karena itu, memuridkan orang-orang percaya membutuhkan proses, mulai dari pembimbingan agar mereka memutuskan hubungan dengan allah-allah lain dan bersatu dalam tubuh Kristus (gereja lokal), dan mengajar mereka agar mereka dimampukan untuk menghidupi nilai-nilai Kerajaan Allah dan berpartisipasi dalam misi Kerajaan Allah. Dalam Efesus 4:11-16, Paulus menegaskan bahwa sasaran dari memperlengkapi orang percaya adalah menghasilkan gereja yang dewasa, bukan sekedar menambah jumlah orang-orang yang menghadiri ibadah gereja namun tetap berperilaku sebagai bayi-bayi rohani. Individu-individu yang didewasakan tidak akan betah sekedar rutin datang beribadah pada hari minggu. Mereka ada dalam gereja tidak untuk sekedar dilayani, melainkan untuk berfungsi sesuai dengan karunia yang dimilikinya. Karunia yang dimilikinya pun tidak akan dipakai untuk menonjolkan dirinya, sebab individu yang dewasa menyadari bahwa ia membutuhkan orang-orang lain yang berbeda karunia dengannya. Dan ia juga akan bersedia untuk mengsinergikan karunianya dengan rekan lainnya, sehingga dalam sinergi itu mereka bersama-sama mendemonstrasikan Kristus. Implikasinya Bagi Gereja Gereja yang dewasa tidak terjadi secara kebetulan. Pemuridan tidak terjadi begitu saja sejak seseorang lahir baru. Juga tidak secara otomatis berlangsung seiring dengan berjalannya waktu. Pendewasaan ini harus dilakukan dengan disengaja. Adalah keanehan apabila ada orang tua yang beranggapan anak cukup diberi makan dan tidak perlu dididik oleh orang tuanya karena ia akan dewasa dengan sendirinya. Demikian juga tidak masuk akal berkesimpulan jemaat akan dewasa hanya dengan menghadiri ibadah raya setiap minggunya. Implikasinya, Gereja harus mengembangkan suatu strategi untuk mendewasakan dan memuridkan semua orang percaya. Kehidupan yang mencerminkan seperti Kristus hanya bisa didapatkan melalui pelatihan. Dan yang tidak kalah pentingnya, pendewasaan tidak terjadi oleh tekad dan usaha individu. Itu harus dikembangkan dalam kelompok (Ibr. 10;24-25). Kelompok itu harus cukup efektif untuk memberi kesempatan yang seluasnya bagi setiap orang percaya untuk mengembangkan karunianya dan mematangkan karakternya. Karena itulah, Kelompok Keluarga Allah (KKA) merupakan wahana yang paling efektif untuk mencapai tujuan tersebut. Strategi ini harus distruktur ke dalam proses internal atau operasionalnya gereja kita. Gereja Tuhan harus dikembalikan kepada tujuan Allah yang semula, agar setiap orang percaya dimampukan menjadi duta Kerajaan Allah yang penuh kuasa di muka bumi. Jika tujuan ini terpenuhi, maka Gereja Sidang Jemaat Allah Jawa Barat akan menjadi kekuatan yang dahsyat, sama seperti orang-orang percaya pada abad pertama yang mencatat rekor yang mengagumkan: “Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan” (Kis. 2:47).
Dirangkum dari: “Seven Steps to Transforming Your Church,” Trinity Christian Centre, Singapore. Disandur oleh Pdt. Hudus Pardede. |



