gototopgototop
company logo

HOME

HOME

Pengurus

Bank Account

BCA Juanda, Bogor
'095 3030 001'
a/n GSSJA BPD JABAR

Sekretariat:

Jl. Suryakencana No. 93 Bogor - Indonesia

Telp. (0251) 9149911

Fax. (0251) 8324773

Email: gssja_bpd_jabar@yahoo.co.id

Jam Kerja:

Selasa - Jumat
Pukul 09.00 - 16.00 WIB

Written by Pdt. Hudus Pardede   
Tuesday, 04 October 2011 11:21

7 Langkah Mentransformasi Gereja Melalui KKA

 

LANGKAH KELIMA

 

PERSIAPKAN LAHAN UNTUK PERUBAHAN

Disadur oleh. Pdt. Hudus Pardede


1. Persiapkan Diri Anda

Perubahan selalu membutuhkan pemula. Sama seperti kemenangan bangsa Israel terhadap Filistin yang dipimpin oleh raksasa Goliat (1 Sam. 17), dimulai ketika Daud memulai perubahan itu dari dirinya sendiri. Saul dan semua tentara Israel memiliki tantangan dan peluang yang sama dengan Daud, tetapi hanya Daud yang berani memiliki inisiatif untuk memulai perubahan perspektif, dan memperorleh kemenangan yang gemilang. Sekiranya Daud mengadakan “voting” dulu untuk memutuskan apakah ia akan maju melawan Goliat, sudah dapat dipastikan kisah tersebut akan berakhir dengan kekalahan fatal di pihak umat Tuhan.

Sebagai pemimpin, gembala sidang (dan tim transformasi) harus memulai perubahan dari diri mereka. Mereka perlu mencari Tuhan dalam doa dan puasa, baik secara pribadi (dalam waktu pribadi dengan Allah) maupun bersama. Dalam masa tersebut, Tuhan akan semakin meneguhkan rencana-Nya mentransformasi Gereja-Nya. Gembala Sidang juga perlu mengintensifkan persiapan untuk membentuk dan memimpin sel kepeduliankepemimpinan.

2. Bagikan Dan Komunikasikan Visi Anda

Sebagai pemimpin, gembala sidang perlu membekali para pemimpin (khususnya para pemimpin inti) dengan visi yang diterimanya dari Tuhan. Komunikasi visi ini tidak cukup hanya sekali, tetapi harus dilakukan secara intensif, baik pada waktu kotbah dalam ibadah raya, dalam KKA, rapat-rapat gereja, pertemuan departemen, maupun pertemuan pribadi. Mereka perlu diingatkan terus menerus tentang tujuan orisinil Allah bagi setiap orang percaya, peran setiap umat Tuhan sebagai iamamat rajani dalam menggenapi maksud ilahi tersebut. Komunikasi visi itu harus sampai kepada “kepala” dan “hati” jemaat. Maksudnya, umat Tuhan harus dapat mengerti dengan jelas mengapa harus berubah, perubahan apa yang akan terjadi, dan sikap yang bagaimana yang diharapkan untuk menyongsong perubahan itu. Di samping itu, visi itu harus juga menjangkau hati mereka agar termotivasi untuk mewujudkan perubahan tersebut. Untuk itu gembala sidang dapat menggunakan berbagai metode, seperti pengajaran firman Tuhan, kesaksian-kesaksian, ilustrasi, atau kegiatan-kegiatan lain yang memantapkan langkah umat Tuhan menuju pada perubahan itu.

3. Ijinkan Adanya Proses Dialog

Ketika sebuah visi disampaikan, perbedaan pandangan adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Ketidaksetujuan beberapa orang tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa mereka menolak visi itu. Latar belakang, pengalaman, atau pendidikan yang menyebabkan perbedaan pandangan tidak selalu menjadi pertanda matinya visi itu. Sebaliknya, perbedaan sedemikian justru bisa disinergikan untuk semakin mempertajam, memperkaya dan melengkapi apa yang tidak terpikir atau sebelumnya. Ada dimensi lain yang mereka lihat dan patut diantisipasi sebelum visi itu diimplementasikan. Dengan mengizinkan adanya dialog, mereka diajak untuk turut memiliki dan mematangkan visi itu.

Ungkapan ketidaksetujuan bisa saja timbul karena mereka belum melihat kebutuhan untuk berubah saat ini, atau kurang diyakinkan bahwa cara yang akan ditempuh sudah tepat untuk mencapainya. Menanggapi keprihatinan seperti itu tidak perlu bersikap reaktif. Pastikan bahwa kita benar-benar memahami gagasan mereka, dan tidaklah salah untuk mengakui secara positif fakta-fakta yang mungkin belum terantisipasi. Kemudian gagasan-gagasan itu bisa disinergikan untuk mencapai visi.

4. Hindari Kesukaran-Kesukaran Tersembunyi Yang Umum Terjadi Dalam Implementasi

Perubahan membutuhkan proses. Karena itu jangan mengharapkan pertumbuhan secara instan. Perubahan yang terlalu cepat dan radikal bisa menimbulkan sikap yang reaktif dan bahkan negatif, sementara orang-orang belum dipersiapkan dengan baik untuk memahami dan menerimanya. Karena itu,sangat tidak dianjurkan untuk mengubah struktur sebelum mengubah nilai-nilainya terlebih dahulu. Misalnya, departemen-departemen dan KKA yang sudah ada di gereja (yang belum menerapkan model TCC ini) biarlah tetap berjalan seperti biasanya, sampai para pemimpinnya dibekali dengan pemahaman tentang model TCC ini dan siap untuk menjalani proses transisi ke implementasi yang lebih jauh.

5. Sepakati Suatu Perencanaan Untuk Bertindak Dengan Pemimpin-Pemimpin Inti Anda

Perubahan yang lebih “smooth” dapat dilakukan dengan membangun contoh sel kepedulian kepemimpinan, yang dipimpin oleh gembala sidang dan para pemimpin inti sebagai anggotanya. Dalam kelompok kecil seperti ini, para pemimpin inti lebih mudah menangkap hati dan visi gembala sidang, dan kelak mereka diharapkna dapat mengimpartasikannya pada anggota jemaat lainnya. Para pemimpin juga berkesempatan untuk mengalami sendiri manfaat KKA dengan model TCC ini. Di samping itu, KKA (sel) kepedulian kepemimpinan ini akan berfungsi sebagai prototipe yang memberi contoh yang nyata bagi jemaat tentang KKA-KKA yang akan dibangun kelak. Ini akan memberi jawaban berbagai keraguan atau ketidaksetujuan yang telah diutarakan sebelumnya.

Langkah-langkah berikutnya sebaiknya dilaksanakan dalam perencanaan dan pengkomunikasian yang baik dengan pemimpin-pemimpin inti. Pada akhirnya merekalah yang akan menjadi garis terdepan dalam menggerakkan jemaat Tuhan untuk menggenapi visi dari Tuhan itu.

 


Powered by GSJAJabar!. Designed by: ThemZa themes ntc hosting Valid XHTML and CSS.