HOME
| HOME |
Persepuluhan
Bank Account
BCA Juanda, Bogor'095 3030 001'
a/n GSSJA BPD JABAR
Sekretariat:
Jl. Suryakencana No. 93 Bogor - Indonesia
Telp. (0251) 9149911
Fax. (0251) 8324773
Email: gssja_bpd_jabar@yahoo.co.id
Jam Kerja:
Selasa - Jumat
Pukul 09.00 - 16.00 WIB
| Power of Love |
| Written by Pdt. Edi Gunawan |
| Wednesday, 15 February 2012 15:04 |
|
Kasih Bersumber Dari Hubungan Dengan Allah Kita tidak mungkin mengasihi sesama tanpa dimulai membangun hubungan dengan Allah. Karena kasih bersumber dari Allah bukan dari diri kita. Dan ini akan menjawab pertanyaan, “Mengapa kejahatan belakangan ini jumlahnya semakin banyak dan kualitas kejahatannya semakin meningkat?” Tak lain karena mereka tidak terkoneksi dengan Allah, mereka tidak memperoleh suplay kasih yang cukup, dan akibatnya mereka menjadi miskin bahkan melarat dalam kasih. Kejadian 1:26-27 mengatakan bahwa kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, namun sejak manusia jatuh ke dalam dosa maka gambar dan rupa Allah rusak. Dari situlah manusia mengenal kejahatan dan melakukan kejahatan. Mengapa demikian? Rusaknya gambar dan rupa Allah dikarenakan hubungan manusia dengan Allah yang terputus, akhirnya Adam menyalahkan Hawa dan Hawa tak mau kalah, ia pun menyalahkan ular. Di sini dapat kita saksikan sebuah contoh sebuah keluarga rusak pada saat hubungan mereka terputus dari Allah, sehingga terjadi saling menyalahkan, mau menang sendiri. Kasih yang sudah dibangun sekian lama dalam pernikahan sepertinya sirna begitu saja sejak hubungan mereka terputus dari Allah. Sebetulnya kita bisa menilai seseorang memiliki hubungan baik dengan Allah atau tidak, caranya lihat saja bagaimana orang itu memperlakukan sesamanya; jika orang itu mengasihi sesamanya itu artinya hubungannya dengan Tuhan sangat baik. Kita nggak pernah menemukan orang-orang yang terhubung dengan Tuhan tidak punya kasih. Di dalam Alkitab tercatat banyak orang yang demikian, dimulai dari: Yusuf yang tetap mengampuni saudara-saudaranya sekalipun ia diperlakukan tidak manusiawi. Namun karena Yusuf selalu terhubungan dengan sumber kasih, sehingga ia tidak pernah krisis kasih. Contoh lainnya adalah Daud, ia tetap mengampuni Saul sekalipun berulangkali Saul berusaha membunuhnya. Bahkan dalam kesempatan-kesempatan yang dimilikinya, Daud tidak menggunakan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Inilah kebenarannya, pada saat kita membangun hubungan dengan Allah, kita sedang masuk ke sumber kasih, sehingga kita tidak pernah kekurangan kasih. Karena kasih yang ada di dalam kita melimpah, sehingga kita sanggup mengasihi setiap orang sekali pun orang tersebut berbuat jahat kepada kita.
Kasih Membutuhkan Pengorbanan Bapa memberikan teladan dalam kasih, dalam hal ini Ia menyatakan kasih-Nya kepada kita dengan cara mengutus Anak-Nya yang tunggal bahkan mati di kayu salib. Mengutus Anak yang tunggal dan mati di kayu salib sebagai bukti pengorbanan Bapa. Kita tidak bisa menyangkali bahwa Bapa sudah berkorban luar biasa besarnya. Bahkan tidak ada pengorbanan yang lebih besar daripada sebuah pengorbanan Bapa mengutus Anak-Nya bahkan mati untuk menebus setiap dosa kita. Kasih tanpa pengorbanan adalah kebohongan, sebuah dusta. Sekalipun dalam kenyataannya kita menemukan ada banyak orang siap berkorban bukan karena mereka mengasihi, melainkan karena kebencian atau ketidaksukaan dengan seseorang dan kelompok tertentu. Ini tidak bisa dikatakan sebagai pengorbanan kasih melainkan pengorbanan kebencian. Pengorbanan kasih adalah mengampuni orang yang bersalah, menerima kelemahan dan kekurangan orang lain, tidak menyimpan kepahitan sekalipun terus disakiti. Pengorbanan kasih tidak menyanderai orang lain bahkan membunuh. Pengorbanan kasih adalah membalut dan menyembuhkan luka. Pengorbanan kasih identik dengan memberi, bertindak, pro-aktif. Artinya, jangan kita menunggu orang lain untuk mengasihi kita lebih dulu baru setelah itu kita mengasihi mereka. Adalah kehendak Allah bagi kita agar kita semua berlomba-lomba memberikan kasih kepada sesama. Jangan tunggu orang lain mengasihi kita, sebab adalah sebuah kebahagiaan jika kita bisa menjadi orang yang lebih dulu mengasihi orang lain. Kita nggak bisa bayangin, apa jadinya jika setiap semua orang saling menunggu memberikan kasihnya satu dengan yang lain. Yang akan terjadi: Banyak keluarga yang mengalami perceraian, banyak hubungan persahabatan yang akhirnya berubah menjadi permusuhan. Sekali lagi, kita lebih memilih memberi atau menerima? Sekarang ada rahasia yang dapat mencelikkan mata kita, pada saat kita ada di perempatan jalan, apakah kita memilih memberi atau menerima? Kita nggak pernah menemukan ada orang di perempatan jalan dengan pakaian dan tubuh yang kotor menghampiri pengendara kendaraan dan mengatakan, “Saya ingin memberkati bapak dengan uang ini” atau “Ini uang untuk Saudara”. Nggak ada pemandangan yang seperti itu. Yang kita saksikan adalah sebaliknya, seseorang yang datang dengan pakaian yang lusuh sambil menyodorkan tangannya yang terbuka untuk mengharapkan sesuatu dari kita. Kita harus mengubah paradigma kita yang selama ini selalu menuntut orang lain untuk mengasihi kita, mengampuni, bahkan berkorban. Itu artinya kita miskin dalam kasih. Kalau kita mau dikatakan sebagai orang yang kaya dalam kasih, teruslah berkorban dengan orang lain. Jangan pernah menunda untuk menyatakan kasih kepada siapa pun juga. Sesungguhnya orang yang memberi lebih kaya daripada orang yang menerima.
Kasih Membuat Orang Lain Melihat Allah Firman Tuhan mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Itu benar sebab Allah itu roh. Namun percaya atau tidak, sebetulnya orang lain bisa melihat Allah melalui kehidupan kita. Inilah level kedewasaan rohani yang Tuhan inginkan bahwa orang lain akan melihat Allah melalui kasih kita. Bagaimana orang lain percaya kepada Allah, jika perbuatan dan perkataan kita tidak mencerminkan sesuatu yang sama dengan Allah? Terlalu sering kita mengakui bahwa Allah tinggal di dalam kita, namun sesungguhnya Allah bukan tinggal melainkan Allah sudah meninggalkan kita. Orang lain bukan melihat Allah, melainkan melihat setan, karena perbuatannya sama dengan setan. Kata “tinggal” dan “meninggalkan” adalah dua kata yang berbeda, walaupun sepertinya mirip. Tinggal berarti menetap atau ada di dalam hati kita sedangkan meninggalkan berarti keluar dari hati kita. Jadi siapa yang tinggal akan menentukan kita memperlihatkan siapa. Jika Allah yang tinggal, tentu yang kita perlihatkan Allah; namun jika yang tinggal adalah setan, maka yang kita perlihatkan setan pula. Tidak mungkin Allah yang tinggal, namun yang nampak adalah setan. Suatu ketika Tuhan Yesus marah kepada para ahli Taurat yang mengaku diri mereka sebagai anak Allah, karena di hati mereka menaruh kebencian kepada Yesus bahkan ingin membunuh-Nya. Oleh sebab itu Tuhan Yesus mengatakan kepada mereka bahwa bapamu itu bukan Allah melainkan Iblis (Yohanes 8:42-44). Hati-hati, Yesus marah kepada kita yang ngaku-ngaku sebagai anak-Nya tapi perbuatan kita nggak sama dengan yang Dia ajarkan. Pernahkah kita bertanya kepada anak kita, “Siapa yang kamu idolakan?” Jika jawabannya adalah diri kita, itu berarti kita sudah berhasil mempertontonkan Kristus. Jika anak kita mengidolakan super hero selayaknya anak-anak lain, itu artinya kita belum berhasil. Mari kita berlomba-lomba memperlihatkan Kristus. Kita harus mempertontonkan Kristus kepada dunia ini. Kita harus menjadi etalase, sehingga setiap orang akan melihat Allah dalam segala perbuatan dan perkataan kita.
|
KOLOM
| Departemen Penyembahan |
| Departemen Pemuridan |
| Departemen Persekutuan |
| Departemen Pelayanan |
| Departemen Misi & Penginjilan |
| Laporan Wilayah |
| KOLEKSI HUMOR |




